Thursday, January 27, 2011

UKHTI..HATIMU MILIK ALLAH


Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah 3x...

Subhanallah..Tika ini, udara segar masih mampu menembusi tenggorokan juga liang pengudaraan...Betapa besarnya nikmat ini, sungguh teramat besar hidup yang dihadiahkan pada jalan keimananan dan juga ketaqwaan..Allahu yuslih baalana..

Betapa perjalanan hari ini yang mengukir seribu satu kisah..Namun, masih jua terkenang pada jalan sirah RasulNya..Membelek kembali tabir hidupnya..Lantas, diri kembali bersemangat..

"Ukhti, nak ke Maktabah?"

"Jom..Teringin juga nak ke sana."

Timbunan buku menjadi hasilnya. Kepuasan mengalir ke jiwa. Alhamdulillah..Kini, timbunan itu akan dilaksanakan urusannya.. Waajibat itu menanti tahdhirnya..Allahu musta'an..

Hati terasa tenang. Sedamai malam yang menjadi santapan mata. Mencari kerlipan bintang. Ada yang samar-samar. Dan ada yang timbul menghadiahkan keriangan. Allahu akbar..Alam Mu ini terlalu luas untuk ditadabbur..Lantas hiasan malam ini menjadi wasilah ketenangan dan laman hati yang berlabuh..Singgah ke dimensi jiwa yang dhaif...

Kesyukuran yang perlu direalisasikan. Pada roh yang terkadang alpa..

Taubat yang perlu diraih. Pada dosa dan maksiat yang kadang-kadang dianggap kecil di sisi manusia. Tapi, di sisi Allah..Ya Allah..

Tika itu, mengalir air matanya.. Ya Allah..

"Kenapa ukhti?"

Membiarkan dia menangis..Menangislah wahai jiwa andai itu yang meredakanmu untuk meraih redhaNya..

Lantas dia membiarkan matanya bengkak dan merah. Tak tertahan lagi hatinya menahan hiba.

"Ana terkesan. Terkesan dengan tiap-tiap ayatullah yang mengalir dari mulut akhawat pada hari ini. Semuanya terkena pada diri. Semuanya tepat menegur diri. Diri ini berdosa."

"Sungguh, kadang-kadang terasa dosa itu kecil di pandangan kita. Tapi, sebenarnya ia sangat besar di sisi Allah. Ana terasa sangat yang Allah sedang merajuk dengan ana. Ya Allah."

"Ana takut Allah marahkan ana."

"Ana tak layak sekalipun menjadi seorang hamba."

Frasa itu.. Kata-kata itu...' YA! Aku tak layak ya Allah.'

Lantas ada ukhti yang menambah..

"Adilnya kita diciptakan lemah. Untuk kita tidak merasakan kita terlebih hebat sehingga kita lupa pada yang lebih hebat. Sehinggakan kita lupa pada yang Maha Sempurna."

"Namun, kelemahan itu tak dibiarkan tak bertali. Kasihnya Allah menciptakan juga jalan-jalan kebaikan pada kedhaifan seorang hamba. Allah Maha Adil. Allah tak pernah zalim.. Dan takkan pernah zalim."

"Ukhti, kita takkan mampu melangkah ke syurgaNya hanya dengan timbangan amalan semata-mata. Hanya secebis. Hanya setitis. Hanya sebesar kuman. Allah.. Tapi, rahmat Allah itu yang mengizinkan kita ke syurgaNya. Allah.."

Terhembus kedinginan jiwa yang meronta. Ya Allah...

Dia bertanya.. Dan kami mendengar..Menadah butir-butir tarbiyah..
"Kerana itulah ana bertanya.. 'Bolehkah kita menyalahkan pada takdir?'"

"Jawapan yang sememangnya pasti, TAK BOLEH. Tapi hati ana rapuh untuk menerima segala ketidakmampuan diri untuk mengelak dari dosa, kesalahan itu."

"Dosa itu ada penyucinya. Taat itu ada jalannya. Ujian itu ada kiasannya. Inzar (peringatan) itu ada pelaksanaanya. Segalanya tak Allah jadikan dengan sia-sia. Segalanya punya makna. Tapi, lihatlah dengan mata hati. Tadabburlah dengan iman. Hayati dengan makna dariNya."

"Allah sayangkan ukhti. Allah cintakan ukhti. Yang pada jiwa hamba itu terkandung rojha' (pengharapan, keinginan, kecintaan yang sangat tinggi) juga khauf ( ketakutan, kegentaran juga kesangsian yang mendalam). Jiwa ini ada cinta dan harapan untukNya. Dan jiwa ini juga punya ketakutan, gelisah yang mendalam pada penerimaanNya.."

"Di manalah takat ilmu ini pada seorang hamba. Yang sekalipun pengharapannya tinggi untuk sebuah keizzahan dakwah. Tapi, setitis ilmu ini takkan pernah menyamai tinggi dan sempurnanya ilmu milikNya. Kita ditarbiyah. Jiwa dan hati. Untuk tidak kita kufuri yang maha berhak. Sekalipun sehelai daun yang gugur ke tanah, semua itu tak terlepas dari ilmunya. Siapalah kita."

Ukhti.. Hatimu milik Allah.. Biarlah ia disapa dengan peringatanNya.. Sekalipun engkau gerun menghadapinya.. Tetapi, tika saat ini, kau dihadiahkan peluang. Sehinggakan air mata ketakutan itulah yang mampu menjadi penghapus api neraka yang ingin menjulurkan sudutnya membakar dirimu.. Ya Allah..

Terima kasih ukhti.. Hinggakan tiap saat ku rindu untuk menatap wajahmu..Mendengar butir bicara..Menjadi bintang yang punya kerlipannya yang tersendiri..

Tak terasa malu untuk menangis.. Menghiba diri pada kekerdilan diri..Sehingga terasa aman pada kasihNya..Tapi tak sesekali aman pada amaranNya..

Andai antara kita pergi dulu menemui Rabb yang Agung, nantikanlah untaian jiwa seterusnya di pintu redhaNya..Pada kesempatan yang cuba untuk diisi dengan pelaksanaan pada janji denganNya..kita akan cuba menggapai maqam, kedudukan tertinggi seorang hamba di sisi Penciptanya..Bukan hanya kita melakar cinta ini di pintu syurga..Tapi lakaran ini akan bersemi di taman Firdaus Al-'A'ala..Kita akan bertemu, berhalaqah di sana.. Yang abadi selamanya...Selamanya..

Allahu musta'an....

1 comments:

FaDhILaH said...

Ya Allah..semoga kita diberi hidayah dan petunjuk untk terus beramal kebajikan di bumi ini rase kerdil dan hina diri ini di mataNYA apa la sangat sumbangan ku terhadap agamANYA Ya Allah jadikan lah kami di antara hambaMU yang beruntung dunia dan akhirat...Aminn....